28 Jul 2020

Semester I 2020, Bank Central Asia Raih Laba Rp12,2 Triliun

StockWatch (Jakarta) - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba Rp12,2 triliun pada Semester I 2020, turun sekitar 5% dibandingkan Rp12,9 triliun pada periode yang sama 2019. Penurunan laba BBCA, antara lain, karena alokasi cadangan kerugian penurunan nilai aktiva sebesar Rp6,5 triliun per Juni 2020 untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas kredit akibat pandemi Covid-19. Menurut Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BBCA, laba Perseroan ditopang oleh pendapatan operasional dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya yang naik 10,3% menjadi Rp37,8 triliun per Juni 2020, dari Rp34,2 triliun pe Juni 2019. Pendapatan bunga bersih BBCA tercatat tumbuh 10,6% menjadi Rp27,2 triliun ketimbang Rp24,6 triliun. Kendati laba bersih BBCA turun, kata Jahja, laba sebelum provisi dan pajak masih tumbuh 15,8% menjadi Rp21,5 triliun. Ini dipicu oleh penurunan biaya dana (cost of fund) dan perlambatan pertumbuhan beban operasional. Adapun beban operasional BBCA tumbuh lebih rendah sebesar 3,8% menjadi Rp16,2 triliun. “Laba sebelum provisi dan pajak yang solid mampu mengimbangi peningkatan biaya pencadangan kredit,” ujar Jahja dalam keterangan pers secara daring, di Jakarta, Senin (27/7). Jahja mengatakan, pandemi Covid-19 mengakibatkan terjadinya perlambatan pada berbagai aktivitas bisnis di beragam industri. Itu sebabnya, permintaan kredit melemah khususnya pada periode Maret- Juni 2020. Pada Semester I 20120, kredit BBCA naik 5,3% menjadi Rp595,1 triliun ketimbang Rp565,2 triliun pada Juni 2019. Kredit korporasi tumbuh 17,7% menjadi Rp257,9 triliun dibandingkan Rp219,1 triliun. Kredit komersial dan UKM turun 0,9% dari Rp189,2 triliun jadi Rp184,6 triliun. Pada portofolio kredit konsumer, kredit pemilikan rumah (KPR) naik 0,3% menjadi Rp91,0 triliun dibandingkan Rp90,7 triliun. Sedangkan kredit kendaraan bermotor (KKB) turun 11,9% dari Rp48,2 triliun menjadi Rp42,5 triliun. Adapun saldo outstanding kartu kredit turun 18,6% menjadi Rp10,6 triliun dari Rp13,1 triliun akibat penurunan konsumsi domestic. Dengan demikian, total portofolio kredit konsumer BBCA selama periode Januari-Juni 2020 turun sebanyak 5,1% menjadi Rp146,9 triliun dari Rp152 triliun. “BCA fokus mendukung nasabah untuk menghadapi kondisi perlambatan bisnis dengan memberikan restrukturisasi kredit secara selektif pada berbagai segmen. Selama bulan Maret sampai dengan Juni 2020, BCA memproses pengajuan restrukturisasi kredit sebesar Rp115 triliun atau sekitar 20% dari total portofolio kredit yang berasal dari 118.000 nasabah. Per tanggal 30 Juni 2020, total kredit yang telah selesai direstrukturisasi tercatat sebesar Rp69,3 triliun atau 12% dari total portofolio kredit. Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30% dari total portofolio kredit, yang berasal dari 200.000-250.000 nasabah,” jelas Jahja. Ia mengemukakan, di tengah tantangan pandemi, BBCA berhasil mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 13,0% menjadi Rp761,6 triliun pada semester I 2020 dibandingkan Rp673,9 triliun di posisi yang sama tahun sebelumnya. Dana giro dan tabungan (CASA) naik 12,8% menjadi Rp575,9 triliun dari Rp510,4 triliun. CASA tetap menjadi inti DPK BBCA dengan kontribusi mencapai 75,6% dari total dana pihak ketiga. Jumlah rekening tumbuh 11,9% menjadi 22,5 juta rekening didukung oleh layanan pembukaan rekening online. Adapun dana deposito meningkat 13,6% menjadi Rp185,6 triliun ketimbang Rp163,5 triliun. BBCA terus mempertahankan rasio keuangan yang solid. Itu tergambar dari rasio kecukupan modal (CAR) yang berada pada level 22,9% dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) tercatat 73,3%. sementara itu, rasio kredit bermasalah atau NPL tercatat sebesar 2,1% dibandingkan 1,4% pada Juni 2019. (daiz)
Top